Sri Laelasari: Lindungi Pelajar dari Kekerasan, Narkoba dan HIV
KUNINGAN,- Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak, Sri Laelasari, menegaskan, Indonesia Emas 2045 bisa terwujud jika pelajar sekarang selalu hidup sehat, terhindar dari narkoba dan obat terlarang, tidak tertular HIV serta tidak mudah dipengaruhi ajakan tawuran atau pun melakukan bullying.
Hal itu dikatakan Sri, Sabtu (8/8/2026) usai penyuluhan terpadu oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, di SMP dan SMK Pertiwi Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus, Jumat (7/8/2026).
"Harapan Pak Presiden Prabowo bahwa Indonesia Emas 2045 bisa terwujud agar sosialisasi ini bergerak berdampak demi Indonesia lebih baik jika pelajar sekarang selalu sehat lahir dan batin," katanya.
Lebh lanjut dijelaskan, penularan HIV kepada kalangan pelajar harus diputus mata rantainya, diantaranya jauhi pergaulan bebas dan pentingnya menyaring informasi agar tidak mudah memberikan stigma negatif kepada Orang Dengan HIV (ODH).
"Apalagi saat ini kemajuan teknologi informasi berkembang begitu pesat atau era digitalisasi maka segala bentuk informasi di internet dan media sosial bisa cepat diakses oleh siapa pun, oleh karena itu pelajar harus bijak memilih mana informasi yang benar dan menyesatkan," katanya.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kuningan dari Fraksi Gerindra yang dikenal aktif memperjuangkan isu perlindungan perempuan dan anak di parlemen itu menekankan bahwa ancaman kesehatan dan sosial pada remaja hanya bisa ditangkal melalui literasi yang komprehensif.
Ia mengajak generasi muda untuk memahami cara penularan virus secara medis dan rasional, sehingga mereka tidak mudah termakan hoaks atau ikut-ikutan melakukan diskriminasi di lingkungan sosial.
"HIV dapat dicegah dengan memahami cara penularannya, menghindari perilaku berisiko serta membangun sikap saling menghormati. Edukasi yang benar akan membantu remaja mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab" katanya.
Selain sehat lahir batin, imbuhnya, pelajar jangan mudah terpengaruh ajakan tawuran dan bullying karena dapat merugikan diri sendiri yang berakibat turunnya nilai indek prestasi di sekolah.
Ketua KKN Kelompok 1 Unisa Bandorasa Wetan, Adi Dimyati, menjelaskan bahwa pelibatan anggota dewan dan instansi terkait merupakan langkah strategis dalam pengabdian masyarakat. Menurutnya, sinergi dengan figur pembuat kebijakan seperti Sri Laelasari sangat esensial untuk membekali pelajar dengan pemahaman holistik yang menyentuh langsung pada persoalan riil di lapangan.
Upaya penyelamatan generasi muda yang disuarakan Sri Laelasari tersebut turut diperkuat oleh paparan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kuningan, Ine Dewi Juniar Kurniawati. Sebagai pintu masuk pergaulan berisiko yang sering berujung pada penularan HIV, Ine mengingatkan bahwa jerat narkotika berawal dari rasa penasaran, sehingga remaja dituntut memiliki keberanian menolak segala bentuk zat adiktif.
Melengkapi kampanye perlindungan remaja tersebut, Kasubag Tata Usaha UPTD PPA Kabupaten Kuningan, Euis Nurmala, turut menyoroti urgensi penciptaan ruang aman di lingkungan pendidikan. Selaras dengan visi yang diperjuangkan Sri Laelasari, Euis mendorong para siswa untuk berani bersuara dan tidak takut melapor kepada pihak berwenang apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan, pelecehan, maupun eksploitasi.
Sri Laelasari, menyoroti urgensi edukasi sejak dini untuk memutus mata rantai penularan HIV di kalangan pelajar. Komitmen tersebut diwujudkannya dengan turun langsung memberikan pemahaman kepada para siswa di tingkat SMP dan SMK mengenai bahaya pergaulan bebas, serta pentingnya menyaring informasi agar tidak mudah memberikan stigma negatif kepada Orang Dengan HIV (ODH).
Sebagai figur yang aktif memperjuangkan isu perlindungan perempuan dan anak di parlemen, Sri menekankan bahwa ancaman kesehatan dan sosial pada remaja hanya bisa ditangkal melalui literasi yang komprehensif. Ia mengajak generasi muda untuk memahami cara penularan virus secara medis dan rasional, sehingga mereka tidak mudah termakan hoaks atau ikut-ikutan melakukan diskriminasi di lingkungan sosial.
“HIV dapat dicegah dengan memahami cara penularannya, menghindari perilaku berisiko, serta membangun sikap saling menghormati. Edukasi yang benar akan membantu remaja mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab,” tegas Sri Laelasari saat memberikan arahan, menggarisbawahi pentingnya benteng pengetahuan bagi masa depan remaja.
Kehadiran legislator Gerindra ini merupakan bagian dari program penyuluhan terpadu yang diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan. Kegiatan edukasi yang digelar di SMP dan SMK Pertiwi Bandorasa Wetan, Kecamatan Cilimus ini, sengaja menggandeng tokoh legislatif untuk memperkuat pesan perlindungan generasi muda dari berbagai ancaman kenakalan remaja.
Ketua KKN Kelompok 1 UNISA Bandorasa Wetan, Adi Dimyati, menjelaskan, pelibatan anggota dewan dan instansi terkait merupakan langkah strategis dalam pengabdian masyarakat. Menurutnya, sinergi dengan figur pembuat kebijakan seperti Sri Laelasari sangat esensial untuk membekali pelajar dengan pemahaman holistik yang menyentuh langsung pada persoalan riil di lapangan.
Upaya penyelamatan generasi muda yang disuarakan Sri Laelasari tersebut turut diperkuat oleh paparan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kuningan, Ine Dewi Juniar Kurniawati. Sebagai pintu masuk pergaulan berisiko yang sering berujung pada penularan HIV, Ine mengingatkan bahwa jerat narkotika berawal dari rasa penasaran, sehingga remaja dituntut memiliki keberanian menolak segala bentuk zat adiktif.
Melengkapi kampanye perlindungan remaja tersebut, Kasubag Tata Usaha UPTD PPA Kabupaten Kuningan, Euis Nurmala, turut menyoroti urgensi penciptaan ruang aman di lingkungan pendidikan. Selaras dengan visi yang diperjuangkan Sri Laelasari, Euis mendorong para siswa untuk berani bersuara dan tidak takut melapor kepada pihak berwenang apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan, pelecehan maupun eksploitasi.
Pewarta: deha.



Post a Comment