Anna Fitri Hindriana Dilantik Menjadi Rektor Uniku 2026-2030


KUNINGAN (KN),- Anna Fitri Hindriana dilantik menjadi Rektor Universitas Kuningan (Uniku) periode 2026-2030 sesuai SK Nomor 62/SK-YPSAK/VII/2025 yang dibacakan Ketua Panitia Seleksi Rektor (PSR) Uniku, Ngatimin DS, di ruang Studen Center, Uniku, Senin (5/1/2026).

Anna, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Yayasan Sang Adipati Kuningan yang telah memberikan kepercayaan dan amanah yang sangat besar kepada saya untuk memimpin Universitas Kuningan dalam lima tahun ke depan.

"Amanah ini saya terima dengan penuh rasa tanggung jawab dan kerendahan hati. Saya menyadari bahwa kepercayaan yang diberikan bukanlah hal yang mudah dan ini adalah kehormatan yang luar biasa sekaligus tantangan yang berat," katanya.

Kepada Yayasan Sang Adipati Kuningan, ia berkomitmen untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh integritas, transparansi dan akuntabilitas.

"Saya akan terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Yayasan dalam setiap langkah strategis yang akan kami ambil, serta memastikan bahwa setiap keputusan yang dibuat adalah untuk kemajuan Universitas Kuningan dan kepentingan masyarakat luas," katanya.

Anna mengajak untuk mengenang dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pendiri Universitas Kuningan. Mereka adalah para visioner yang telah meletakkan batu pertama dan membangun fondasi awal Uniku dengan penuh perjuangan dan pengorbanan.

Disebutkan pendiri Uniku yaitu Kahari Prawirasudjasa, Djuhari Karnawisastra,
Arifin Setiamiharja, Hasan Sutardi dan Sukardi Ilhamudin. Berkat visi, keberanian dan kerja keras para pendiri inilah, Universitas Kuningan dapat berdiri sejak tahun 2003 dan terus berkembang hingga hari ini.

Rektor sebelumnya selama dua periode (2017-2020 dan 2021+2025), Dikdik Harjadi, mengatakan, hari ini bukan sekadar seremoni pergantian amanah, melainkan momen perenungan atas sebuah perjalanan panjang pengabdian yang telah Allah SWT titipkan kepada dirinya.

"Sejak hari pertama amanah ini diletakkan di pundak saya, saya menyadari sepenuhnya bahwa jabatan rektor bukanlah simbol kehormatan, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanyakan, bukan oleh manusia tetapi oleh Allah SWT," katanya.

Lebih lanjut dikatakan, setiap keputusan, setiap tanda tangan kebijakan, bahkan setiap diam dan sikap yang ia ambil, semuanya adalah bagian dari amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Tidak ada satu pun langkah yang ia tempuh tanpa rasa takut kepada Allah SWT. Takut jika keliru dalam niat, takut jika lalai dalam melayani dan takut jika tanpa sadar menyakiti hati orang lain.

"Namun di balik rasa takut itu, saya juga menemukan kekuatan-kekuatan yang lahir dari kebersamaan, doa dan ketulusan seluruh civitas akademika," katanya.

Dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini ia memohon maaf yang sebesar-besarnya. Maaf atas tutur kata yang mungkin terasa kaku, atas kebijakan yang mungkin belum sepenuhnya adil dan atas keterbatasannya dalam menjangkau harapan setiap insan di perguruan tinggi ini.

"Percayalah, tidak pernah ada niat selain berusaha menjaga marwah institusi dan menunaikan amanah sebaik-baiknya," katanya.

Pergantian kepemimpinan adalah sunnatullah. Tidak ada jabatan yang abadi dan tidak ada kekuasaan yang melekat selamanya. Namun nilai-nilai yang ditanamkan kejujuran, integritas, tanggung jawab dan kepedulian harus tetap hidup dan mengakar kuat.

"Saya titipkan perguruan tinggi ini kepada para penerus dengan penuh harap dan doa, agar ia terus tumbuh sebagai rumah ilmu yang menyejukkan, bukan sekadar tempat belajar tetapi tempat pembentukan karakter dan akhlak mulia," harapnya.

Pewarta: deha.


Diberdayakan oleh Blogger.