Jadi "Budak Narkoba dan Miras" Keperjakaanku Direnggut Mahasiswi
Kisah ini merupakan kejadian sebenarnya, bukan rekayasa atau cerita fiktif tapi informasi berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Ia merahasiakan selama puluhan tahun karena dianggap aib bagi kehidupan pribadinya sebagai mantan pecandu narkoba jenis ganja, obat-obatan terlarang dan minuman keras (miras).
Lelaki ini lahir di salah satu kabupaten paling timur di Provinsi Jawa Barat. Selesai sekolah di SMPN, ia dibawa ke Kota Bogor melanjutkan sekolah di sana karena bapaknya pindah tugas pekerjaan.
Ia tinggal di komplek perumahan (BTN) di pinggiran kota bersama empat orang adiknya (tiga laki-laki dan satu perempuan).
Saat duduk di kelas 2 SMA swasta, ibu kandungnya meninggal dunia karena suatu kecelakaan. Tiga orang adiknya yang masih kecil dititipkan ke neneknya di kampung halaman.
Tak lama kemudian, bapaknya dipindahkan lagi tugasnya ke kantor pusat di Bandung dan pulang ke Bogor seminggu sekali bahkan satu bulan sekali.
Ia kehilangan kasih sayang dari seorang ibu dan ia pun broken home, suka mengkonsumsi narkotika jenis ganja, obat-obatan terlarang dan minuman keras, sering mabuk atau teler di luar rumah.
Ia mudah bergaul dan punya banyak teman di sekolah maupun tempat tinggalnya. Setiap hari rumahnya selalu dikunjungi teman-temannya sekedar minum kopi atau makan bersama.
Ia menyukai musik dan menyanyi, sehingga tidak heran kalau ia disukai dua orang siswi di sekolahnya, termasuk gadis di komplek perumahan itu berinisal DW.
Suatu hari di komplek perumahan itu datang seorang perempuan dari kota lain untuk berlibur, menginap di rumah saudaranya yang mempunyai toko kelontongan.
Perempuan berinisial CN itu merupakan mahasiswi semester II di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Barat. Wajahnya cantik, kulit putih, rambut lurus, bibir tipis dan matanya agak sipit.
Saat ia membeli rokok toko saudaranya CN, rupanya menarik perhatian CN tapi ia tidak mempedulikan perempuan tersebut karena usia perempuan itu jauh berbeda.
Hal itu ia rasakan ketika duduk di depan toko usai membeli kopi dan dipaksa oleh teman-temannya untuk nyanyi sambil main gitar.
Dari dalam toko CN keluar, lalu duduk tidak jauh darinya. Ia hanya melirik sekejap kepada CN dan meneruskan bernyanyi.
CN sering menitipkan salam kepada adiknya maupun teman-temanya, namun ia bersikap cuek karena dalam hatinya sudah ada DW dan salah seorang siswi yang sama-sama satu sekolah berinisial HR.
Tragedi pun terjadi. Pada malam minggu saat rumahnya sepi karena adiknya pergi, ia berada di kamar sendirian dan sedang mabuk berat akibat menenggak miras, obat terlarang dan menghisap ganja.
Sambil "fly" ia mendengarkan musik rock (heavy metal) duduk di lantai membelakangi pintu kamar. Tiba-tiba dari belakang ada orang memeluknya.
Tak pelak, ia sangat terkejut, apalagi saat itu hanya memakai kaos singlet dan celana pendek, terlebih lagi yang memeluknya adalah CN.
Entah mengapa, mungkin karena pengaruh alkohol dan narkoba, ia menuruti kemauan CN ketika tangannya ditarik lalu badannya didorong ke tempat tidur.
Ia tidak tahu berapa lama kejadian itu berlangsung namun yang ia rasakan adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang laki-laki.
Besok paginya setelah mandi, ia merenung di dalam kamar, mengingat kembali kejadian tadi malam dan ia pun menyesali setelah dirinya sudah tidak perjaka lagi.
Saat semester 5, ia diharuskan pindah sekolah dan melanjutkan di SMA swasta yang ada di kampung halamannya.
Ketika ditanya apakah kebiasan itu masih dilakukan di sekolah yang baru?, ia menjawab hanya minum miras dan setelah itu ia tidur di rumah neneknya.
Waktu pun berlalu, kisah ini ia simpan selama puluhan tahun. Kini ia sudah beristeri, memiliki tiga orang anak, dua putra belum menikah dan satu putri sudah menikah serta dua orang cucu.***
#Tim Redaksi kamangkaranews.com.


Post a Comment